Waktu menunjukkan pukul 11 malam pada kala itu di tahun 2011. Saat itu aku sedang dikamar hendak tidur. Tiba-tiba hpku bunyi. Telpon dari papah. Lho, kan papah di kamarnya, ada apa ya? Tanyaku dalam hati.
" Iya, kenapa pah? " tanyaku
" Anter papah ke rumah sakit wa,, dada papah ngga enak" pintanya padaku.
" Iya sudah pah. Tunggu aku kebawah dulu" kata ku sambil beranjak dari tempat tidur.
Sesampainya di rumah sakit daerah Depok papahku langsung masuk IGD mengingat dia punya sakit jantung. Mama mengantarnya masuk ke dalam. Setelah dapat parkiran aku langsung masuk ke dalam, namun mamah ada di luar.
" Papah kenapa mah? " tanyaku.
" Ga apa-apa. Cuma kangen sama suster di rumah sakit paling. Itu udah mau selesai. " kata mamaku sambil bercanda. Malam itu pun kami pulang tanpa rasa was was.
Namun tidak untuk empat hari kemudian. Papa masuk rumah sakit lagi. Harus ada tindakan untuk pemasangan ring kembali dijantungnya. Selama observasi di rumah sakit itu, disisi lain akupun harus menjalani operasi karena ada benjolan di daerah mamae. Atau singkatnya ada tumor jinak dan mengharuskan diangkat agar nantinya tidak mengganggu produksi ASI saat punya anak kelak. Operasi yang terbilang ringan karena tidak adanya perawatan inap untukku. Alhamdulillah berjalan lancar dan aku hanya ditungguin kakak perempuanku (Ratih) karena mama harus jagain papa di ruang rawat walaupun dirumah sakit yang sama.
Selang satu hari aku selesai operasi, ternyata papaku harus dipindahkan ke rumah sakit yang dulu menanganinya saat pemasangan ring pertama. Ini kali pertama mama dan papaku pergi dengan mobil ambulance menuju rumah sakit jantung daerah Ps. Rebo. Mamaku pulang ke rumah bergantian dengan kakak laki-lakiku (Helmi) untuk menjaga papa.
Sabtu pagi aku dibangunkan mama untuk bersiap ke rumah sakit lagi karena hari ini adalah jadwal operasi papaku. Aku hanya berdua dengan mama.
" Kita lewat kopasus aja ya wa biar cepet" kata mamaku.
" Lewat jalan raya bogor ajalah mah. Kopasus mah banyak poldurnya, males ngerem" jawabku.
" Ih,, udah lewat kopasus aja. Kan keluarnya di Cijantung situ deket langsung lampu merah Ps. Rebo" katanya sambil kaya mau debat denganku. Tapi entah kenapa otak menyuruh tanganku menyalakan sein dan belok ke arah jalan menuju Kopasus. Sesampainya di rumah sakit, ternyata papaku sudah diruang operasi. Dan sedang ditunggui Mas Helmi, kakak laki-lakiku. Aku? Aku paling tidak kuat nungguin dalam kondisi kaya gini, aku lebih memilih ke kamar rawat inap papah.
Hari sudah sore, papaku sudah selesai pemasangan ringnya. Namun masih di ruang ICU karena satu dan lain hal. Dan teman-teman mama dikomplek juga sudah mau pulang.
" Wa, kita pulang abis Isya aja yah." kata mamaku. Dan aku hanya mengangguk saja. Dalam perjalanan pulang mama minta lewat jalan yang sama dengan berangkat tadi, dan aku tetap ada argumen sedikit seperti tadi pagi. Tiba-tiba mama berkata " Seharusnya bulan depan kita berangkat umroh ya wa berempat sama adikmu. Tapi papa sakit."
" Iya mah. Tapi kan bisa nanti-nanti juga. " kata ku singkat.
Sampai dirumah entah mengapa mama memintaku, Mba Ratih dan adikku Aril untuk langsung tidur dan tidak menonton drama korea dulu. Karena katanya takut besok kesiangan dan harus jenguk papa.
Dan malam itupun kami terlelap sampai pagi Mba Ratih teriak pada pukul 5.30 pagi sambil berlari dan menggedor kamarku. Seperti orang panik dan mukanya pucat!
" Wa, mamah! Mamah, wa! Aduuh, tolingin wa" katanya sambil panik dan membingungkan karena susah bernapas karena berlari.
" Kenapa mba? Mama, kenapa? " tanyaku sedikit panik.
" Mama ga bangun. Mama wa!! " katanya sambil agak histeris dan mau nangis.
" Ya, Allah." aku pun langsung berlari ke kamar mamaku disusul Mba Ratih dan Aril. Dan benar saja, aku melihat tubuh mamaku sudah terbujur kaku. Panik! Aku panik sepaniknya sampai ga tau mau berbuat apa. Aku menggoyangkan badan mamaku. Membalurnya dengan minyak tawon berharap badan dinginnya bisa hangat kembali. Matanya bisa terbuka lagi. Mba Ratih panik, aku pun langsung ke rumah tetangga depan rumah minta tolong. Rumah ramai dengan tetangga. Salah satu tetangga berinisiatif membawa ke rumah sakit untuk meyakinkan. Dan kata dokter jaga, mamaku telah tiada. Serangan jantung. Mungkin sudah beberapa jam sebelum mba Ratih menemukan mama. Ya Allah, dunia terasa hancur pagi itu. Masih tidak percaya. Masih terasa mimpi. Saat itu entah berapa banyak air mataku jatuh. Aku ga tau rasanya kehilangan yang amat sangat seperti ini. Aku masih syok. Aku memikirkan papaku. Bagaimana kami memberitahunya saat ia masih pemulihan dari operasi. Bagaimana dengan jantungnya nanti? Semua bercampur aduk. Akhirnya papa pun tau kalau mama sudah tiada.
Siang itu rumah ramai sekali. Akhirnya papaku tiba, semua tenang walaupun terselip rasa penasaran akan kondisi papaku. Papaku lebih tegar dariku, walaupun air mata tetap mengalir namun terlihat ikhlas dan tenang. Tangisku pun pecah saat ia mencium mamaku untuk terakhir kalinya. Puluhan tahun bersama tanpa adanya pertengkaran yang berarti, sekarang terpisah karena Ilahi. Memang umur itu rahasia Allah, yang sakit berat papaku namun yang kembali padaNya mamaku. Kakakku bilang padaku bahwa tugas mama sudah selesai, sekarang saatnya kamu memimpin dirimu untuk masa depan. Jaga mama untuk surganya nanti. Terima kasih mama. Jasamu sangat tak ternilai, maafkan hutangku padamu belum lunas, aku belum menunjukkan kesuksesanku. Semoga kita bertemu kembali nanti di surganya Allah, insha Allah.
-------------
Inilah pengalamanku yang paling mendalam,, kehilangan mamaku disaat sedang recoveri pasca operasiku dan tepat setelah papa selesai pemasangan ring. Saat itu dokterlah yang menyampaikan bahwa mamaku telah tiada, dan dengan pengawasan suster papa diizinkan pulang walau tidak ke pemakaman mama. Alhamdulillah, sampai saat ini papa sehat walaupun sempat operasi by pass untuk jantungnya. Semoga sehat selalu papa, semangat terus. Kita tidak kehilangan mama seutuhnya karena ia selalu dihati kita.
Komentar
Posting Komentar