"Nanti pulang dari kampus mama titip beliin duren ya, Dek?! " kata mamaku yang memang doyan sekali sama duren.
" Hah, duren? Emang udah musim mah?" tanyaku.
" Udah kali. Makanya nanti kamu mampir dulu di supermarket. Uangnya nanti mama transfer. Eh, bukan mama deng yang transfer. Papa kamu aja. " katanya sambil ketawa mengisyaratkan kalau mama ga mau rugi.
" Hahaha. Ya sudah nanti aku telpon papa aja kalau sudah di supermarket. " kataku sambil bersiap mau berangkat ke kampus. " Ya udah ma. Aku jalan dulu ya ma." kataku sambil berpamitan pada mama dan mencium tangannya.
Namaku Nada Fayza Putri, anak ke tiga dari empat bersaudara. Anak perempuan ke dua. Kuliah di universitas swasta di Jakarta. Kesehariannya masih normal-normal aja. Kalau kuliah selesai ya pulang. Bukannya ga mau bareng teman yang lain untuk sekedar berkumpul atau jalan bareng. Tapi entahlah, aku seperti punya duniaku sendiri. Lebih nyaman nonton drama dimana daya khayalku selalu bermain dan membayangkan kalau si pemeran utamanya adalah diriku. Hahaha. Naif memang, membayangkan tokoh pria yang sempurna untuk dijadikan tambatan hati. Mungkinkah drama Korea yang selalu aku tonton akan menjadi kenyataan dikehidupan nyataku? Karena jujur saja, sudah semester lima ini aku belum pernah yang namanya berpacaran atau jatuh cinta. Bukannya tidak mau atau tidak laku. Tapi panutan pria dalam bayanganku adalah seperti tokoh di film drama itu. Lee Min Ho, Gong Yo, Ji Cang Wook, Lee Dong Wook ya seperti itulah kira-kira standar pria impianku. Hahaha. Tidak ada yang tidak mungkin bukan? Berkhayal seperti itu ga salah kan? Yah, namanya juga impian. Minimal sedikit menyerupai ga apa lah. Sudah ada beberapa laki-laki yang mencoba mengajakku untuk berpacaran, tapi lagi-lagi belom ada yang pas dihati ini. Semua terlihat standar dan biasa saja. Mungkin kebiasaan membaca komik serial cantik atau menonton drama-drama Korea atau Jepang membuatku terlalu meninggikan selera laki-laki yang akan menjadi kekasihku. Sampai pernah ada yang marah dan mengataiku dengan kata maniak. Wes, serem amat yah. Padahal kriteria cowo itu kan perlu.
"Hmm. Kayanya ada bau duren nih. Selamat mama, akhirnya bisa makan duren kesukaan. " bisikku dalam hati. Dan, ya! Banyak durian yang sudah harum minta untuk dibawa pulang. Tenang, untuk memilih mana yang enak sudah menjadi keahlianku. Bagaimana tidak, karena akulah kurir durian mamah. Cari yang bulat sempurna, karena apa? Biar tidak ada bagian yang kosong. Hahaha. Lagi-lagi tidak mau rugi! Itu ajaran mamaku loh. Lalu liat di bawahnya apakah si duren merekah atau terbelah sendiri, kalau iya berarti sudah matang. Yang terakhir cium baunya dan icip. Icipnya dikit aja, kalau satu buletan namanya beli dan makan ditempat. Dan jangan lupa untuk tetap berhati-hati kalau tidak bisa bahaya karena bentuk duren itu sendiri. Biarpun sudah ahli tapi kejadian nahas pernah datang padaku yang membuat tanganku berdarah. Yeeaah. Sudah dapat tiga. Ini sih pesta duren namanya. Sudah ga sabar nih untuk cepat-cepat sampai di rumah jadinya.
Sesampainya dikasir. Lagi antri untuk pembayaran. Aku sedang asik liat medsos di hapeku. " Ya, ampun mba. Bisa pindah ga? Bau banget nih durennya. Bisa-bisa saya pingsan deh ini." kata laki-laki yang berada di depan troli sambil menendangnya. Sontak aku langsung menaikan mukaku dan melihatnya sedang menutup hidungnya dan terlihat marah. "Hah, kenapa mas? " kataku membuka headset yang terpasang dikupingku. " Pindah dong mba ke kasir mana kek, bau banget nih durennya. Bisa pingsan gw gara-gara baunya. " katanya mengomel. "Lah, gimana mau pindah mas. Kasir yang buka cuma ada tiga, dibelakang saya udah ada orang ga bisa pindah lagi. Lagian wanginya enak gini dibilang bikin pingsan." kataku membela para duren. Suka heran deh sama orang yang ga suka sama duren. Merugi sekali.
" Dih, enak dari mana? Bau kaya gini dibilang enak. Enak tuh wangi parfum gw!" katanya ketus.
" Lah, emang gw disuruh ngendus-ngendus bau lw apa? Rugi amat, enakan juga nih duren. " jawabku yang ga mau kalah. Heran deh, sama ni orang. Laki kok bawel amat masalah bau duren, kalau ga suka kan tinggal tutup hidungnya atau ngejauh gitu.
" Heh, lw ga tau siapa gw? Banyak tau yang mau deket-deket sama gw! " ucapnya seperti mau ngajak berantem
" Ga. Emang siapa lw? Penting banget buat gw tau? Kalau lw Lee Dong Wok nah gw baru mau deket-deket lw. Ini gw ga kenal siapa lw" jawabku yang sudah mulai kesal.
" Gila! Kayanya baru lw doang yang ga kenal siapa gw! " katanya sambil kesel.
" Udah. Udah. Malu kali ini diliatin semua orang. Lagian lw, Yo. Kaya gini aja ribut banget. Udah sana ngejauh. Selesai." kata seorang pria lain yang sepertinya teman orang tadi itu.
" Maaf ya mba, temen saya emang suka gitu kalau lagi kalut. Banyak pikiran dia. " katanya lagi kepadaku. Dan meminta maaf atas sikap temannya itu. Ganteng nih orang dan kaya ga asing sih mukanya. Tapi siapa ya? Pikirku dalam hati.
" Oh, iya mas ga apa. Lagi mau bulannya kali ya mas dia. Jadi sensi gitu. Hehehe" kata ku agak bercanda.
Transaksi dikasirpun tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mereka yang didepan saya pun telah menyelesaikan transaksinya. " Mari mba duluan" kata mas yang baik tadi. "Eh, iya mas. " kataku sambil melemparkan senyum ramah. Disini aku belum sadar betul siapa mereka. Hanya merasa mas yang baik tadi mukanya familiar aja gitu. Sesampainya diparkiran ternyata matahari sudah terbenam dan kesialanku belum berakhir. Aku bertemu lagi dengan cowok bawel tadi. "Aduh, gila ya! Ga di dalem, ga diparkiran gw ketemunya sama cewek duren ini. Lw pura-pura ga tau kan siapa gw. Sampai lw ngejar gw ke parkiran gini. " ujarnya panjang.
" Ya Allah mas, parkirannya punya lw? Orang gw mau ke mobil" kataku. Yang ternyata mobilku terparkir bersebelahan dengan mobilnya. Kusimpan belanjaanku ke bagasi tetap dengan backsound ocehan si cowok bawel itu. Kesal. Kudekati dia dengan agak sedikit marah, tapi saat mau ku dekati dia juga buru-buru lari ke arahku dan menarikku. Dia memelukku! Hah, apa-apaan ini?? Berani banget nih orang main peluk aja. Dan, brruuumm. Ternyata dia menarikku karena ada motor yang lewat. Motor aneh yang ngebut di parkiran. Ya ampun, aku diselamatkan dari motor itu. Mungkin kalau ga ditarik bisa ditabrak, badan yang mungil ini bisa babak belur.
" Hmm.. Permisi masnya, mau sampai kapan yah di giniin?! " tanyaku gugup. Ya, gugup karena pertama kali dalam hidupku dipeluk sama cowok. Aku merasakan kehangatan dari pelukannya. Benar juga aroma tubuhnya dari parfumnya benar enak. Aku merasa nyaman. Eh, kok gini. Kenapa jadi nyaman? Dia melepas pelukannya.
" Lain kali liat-liat dulu kalau jalan. Jangan main sradak sruduk aja. Untung tadi timingnya pas, kalau ga bisa celaka kan. Sengaja mau dipeluk gw? " katanya masih dengan ketusnya. Aku hanya bisa melihat mukanya. Pengen banget nimpalin ngomel tapi bibir ini kaku.
" Sorry. Terimakasih. " kataku.
" Sama-sama. Udah sana gih, bau duren lw. Eh, tapi bentar sini hp lw. " katanya seraya mengambil hp di tanganku. Entah apa yang dia lakukan.
"Nah, nih kontak gw. Kalau ada apa-apa sama badan kecil lw ini gara-gara kejadian tadi kabarin gw aja." katanya dan ditambah senyuman. Ya ampuuun. Kenapa senyumannya malah bikin deg degan gini?? Kenapa gw jadi salting juga. Dan kenapa gw malah senang dia ngasih kontaknya ke gw?.
"Iya, bye. Gw balik duluan" kataku masih dengan gugup. Kamipun berlalu. Ada terselip rasa senang karena aku punya nomor kontaknya.
Sesampainya dirumah, ngeliat si duren pun sudah tidak nafsu seperti biasanya. Ada yang aneh sama diri ini semenjak kejadian tadi. Kuingat-ingat lagi kejadaian itu, pelukan itu. Yap, persis kejadian yang suka ada di drama-drama korea. Dan tersadar juga kalau badannya yang tegap itu mirip sama Ji Cang Wook di film K2. Buru-buru ku ambil hp dan melihat kontaknya. Namanya Mario, kulihat profil picturenya. Dan ya ampuun! Geli banget nih foto. Hahahaha. Sok keren banget. Gayanya udah kaya artis gitu. Hpku ada panggilan masuk, dari Mario.
"Hallo. " kataku
"Hallo, cewek duren. Lw baik-baik aja kan? Ga ada yang lecet atau apa gitu? Atau hati lw yang bermasalah gara-gara gw telpon nih? " ucapnya sembarangan.
" Dih, kok hati gw yang bermasalah. Amit-amit. Iye, gw baik-baik aja. Kenapa lw telpon? Masih ngerasa meluk gw?" balasku.
"Hahaha. Ada juga lw kali ah, apalagi sama gw. Orang-orang banyak yang kepengen loh! " katanya berbangga diri.
"Ga lah, siapa lw sampai gw pengen banget dipeluk? " kataku heran.
" Lah, lw ga tau siapa gw? "
"Ga"
" Serius?? Lw bukan orang primitifkan yang ga punya TV? " tanyanya bingung.
" serius gw ga tau lw siapa! Gw punya TV tapi jarang bgt gw tonton." jelasku.
" Serius lw ga tau gw? Lw ga tau Staring Band? " tanyanya makin heran.
" Ga. " jawabku polos. "Emang ada Staring Band? "
" Gila! Kemana aja lw sampai ga tau band terkenal itu? " tanyanya makib heran.
" Ya ada. Tapi gw emang jarang banget nonton TV lokal. Males ga berfaedah. Hahaha. "kataku.
" Ok, sekarang coba lw googling deh siapa mereka. Ntar gw telpon lagi" dan Mario pun mematikan telponnya.
Siapa sih Staring Band? Penasaran juga nih. Aku pun menggoogling. Dan, wow! Betapa kagetnya diri ini. Ternyata Mario itu anggota Staring Band. Pantes aja picture profilnya kaya artis gitu. Dan temennya tadi satu grup juga? Kenapa yang familiar muka temennya.
Keesokan harinya Mario menelponku lagi. " Udah googling? " tanyanya.
"Iya, udah. Ternyata ada ya Staring Band. Hahaha, sorry gw ga update kalau band dalam negri. Artis-artisnya pun ga hapal. " kataku sambil ketawa kecil.
" Ya adalah. Lagian selama ini lw kemana aja? Masa ga tau band terkenal dengan jutaan penggemar? " tanyanya heran.
"Iya. Iya. Maaf, gw emang ada di Indonesia tapi jiwa gw lebih ke Korea atau Jepang. Jadi untuk artis Indonesia ga terlalu mantengin. " jelasku.
" Kita ketemuan. Gw tunggu lw di Mall kemaren di coffee shop. Nanti jam 11an yah. " katanya sambil menutup telpon. Apaan sih nih orang, main merintah aja kaya gitu.
Jam 11 siang. Ya, aku sudah di mall kemarin dan sudah menuju coffee shop yang dimaksud. Entahlah, yang seharusnya kesal karena dia asal perintah orang suruh dateng dan ga penting ini tapi aku nyatanya sudah di tempat janjian. Ada apa sih sama aku ini? Kenapa malah senang dan pengen ketemu? Aku sudah duduk dipojokan ditemani minuman kopi caramel frappucino kesukaanku. Sudah hampir setengah jam menunggu tapi Mario belum datang juga. Apa aku yang kepedean yah? Jangan-jangan aku dikerjain lagi. Tiba-tiba ada yang menggenggam tanganku.
"Ayo kita keluar dari mall, gw diserbu sama fans nih. " dia langsung menggandengku, menarikku dan kita lari menghindari kejaran penggemarnya yang ternyata banyak juga.
Oke, ini pengalaman kedua yang mirip adegan di film korea, dimana si aktor lari dari penggemarnya sambil narik wanita pujaannya. Eh, wanita pujaannya? Untuk sekarang beda kasus loh. Tapi aku seneng. Sepanjang berlari aku senyum-senyum sendiri.
" Lw parkir dimana? " tanyanya.
" Di P5. " kataku
"Kita lewat tangga darurat aja yah. Jangan lepasin tangan lw. " katanya sambil terus menarikku menuju ke parkiran. Sampai dimobilku dan dia masuk juga bersamaku.
" Sini aku aja yang nyetir. Maaf ya, tadi udah buat kamu nunggu lama dan sekarang malah jadi lari-larian gini. Kamu capek ya? " katanya yang menurutku mendadak baik.
"Oh, iya ga apa. Kenapa bisa dikejar gitu sih? Sebrutal itu fans kamu? Terus kita mau kemana ini? " tanyaku.
" Entahlah, ada wartawan juga. Mungkin mereka heran karena aku jalan sendirian di Mall tanpa pengawalan. Aku emang lagi ingin tanpa pengawalan. Jangan takut yah. Aku hanya ingin hidup normal dengan wanita normal seperti kamu. " katanya dan sambil tersenyum ke arahku. What? Apaan ini? Hidup normal dengan wanita normal sepertiku?
"Hmm.. Maksudnya gimana yah? Kok aku ga bisa nangkep yah? " tanyaku bingunng.
" Iya, sejak kemarin aku ketemu kamu. Memang awalnya kesal tapi pas tau kamu ga sama sekali ngenalin aku, disitu hati aku bilang kalau kamulah yang aku cari selama ini. Kamu polos dengan duniamu. Membuatku kepikiran terus tentangmu. Kamu membuatku jatuh cinta tanpa syarat dan aku ingin mengenalmu lebih dari sekarang. Tolong jangan tolak aku karena aku butuh kamu. " ujarnya. Haah. Ini pernyataan cinta? Seumur hidupku ini pernyataan yang paling membuat degdegan. Apa aku juga jatuh cinta sama dia? Secepat itu kah? Dan aku hanya tersenyum kepadanya tanpa kusadari.
Komentar
Posting Komentar