Pernah ga sih kita mikir kalau ternyata Allah masih suka ngasih kesempatan kepada hambanya namun yang dikasih kesempatan itu ga sadar. Malahan dia berfikir kalau dia hanya "beruntung" karena telah selamat. Pernah mengalami hal-hal yang bisa saja merenggut nyawa kita? Namun, tak disangka-sangka ternyata kita masih diselamatkan oleh Allah SWT.
Saya pernah dan yang paling diingat banget itu dua kejadian yang benar-benar membuat saya jadi sangat bersyukur. Kejadian pertama itu sewaktu saya SMP, sekitar tahun awal 2000an. Saya mengambil les bahasa Inggris di kawasan Pangadegan - Kalibata. Daerah itu memang terkenal dengan kawasan lintasan kereta apinya. Dan sudah pasti akan lalu lalang kereta yang sangat sibuk itu.
Suatu sore saat pulang dari tempat les, aku dan ke tiga teman-temanku memutuskan untuk tidak menaiki ojek seperti biasanya untuk ke Kalibata. Dari Pangadegan biasanya memang kami selalu naik ojek untuk ke Kalibata dan naik angkot untuk pulang ke rumah. Tapi kali ini kita mau mencoba naik angkot. Karena naik angkot mengaharuskan kita untuk menyebrang perlintasan rel kereta api, maka kita jalan dulu ke arah gang untuk menyebrang. Namanya masih anak SMP, dan kita semua cewek maka yang ada dijalan adalah bercanda terus dan sesekali main dorong-dorongan. Menyusuri gang kecil dan agak sedikit gelap karena sudah sore dan juga mendung. Dan dua tiga langkah lagi kita akan menyebrang rel, tiba-tiba kita diberhentikan oleh seorang wanita dengan merentangkan tangannya guna kita berhenti. Lebih tua dari kita dan memakai jilbab panjang. Jaman itu jilbab panjang masih jarang dan kami pun melihatnya tidak biasa. Dan apa yang terjadi? Kereta pun lewat!!
Wuuuzzzz.. Angin kencang karena kereta lewatpun membuat rambut kami cukup berantakan. Dan ya, kereta lewat! Sekali lagi kereta lewat sangat cepat. Dengan terbengong kamipun selamat. Entah bagaimana jika kami yang masih SMP itu, yang masih suka bercanda ga inget tempat tidak dihentikan langkahnya oleh kakak wanita tadi. Dengan masih deg degan dan bengong kamipun mengucapkan terimakasih yang amat besar. Dan kakak itupun tersenyum sambil berkata untuk lain kali lebih berhati-hati. Memang salah kami dan jujur saat itu aku dan teman-teman tidak mengerti bagaimana cara membaca tanda lampu kereta mau lewat atau tidak. Dan itu benar-benar membuat kami lebih sangat berhati-hati setelahnya.
Yang kedua adalah saat saya dan mantan pacar yang sudah menjadi suami ini. Sepulang dari kampus, seperti biasa kami melewati Lenteng Agung untuk pulang ke arah Depok. Ditengah jalan dengan sangat cepat kejadian motor jatuhpun terjadi. Kami yang saat itu melaju dengan kecepatan 60km/jam sudah berada di bawah. Terseret 50M kedepan dan saat saya pribadi membuka mata, yang terjadi adalah ban motor orang ada dihadapan saya. Beruntung si pengendara sangat tepat waktu mengerem motornya. Entah apa yang terjadi bila ia telat sedikit saja. Karena benar-benar ban motor itu didepan muka saya. Alhamdulillah sekali kami selamat, dan hanya mengalami syok dan luka kecil. Ya, Alhamdulillah sekali lukanya kecil di bagian lutut saya dan lecet dibagian kaki suami, eh dulu masih pacar deng. Yang terjadi sebenarnya adalah karena mobil yang tadinya ada di lajur sebelah paling kanan tiba-tiba ambil jalan ke tengah dimana motor kami sedang melaju. Maka tersenggollah motor kami dengan badan mobil bagian belakang. Tapi saat itu si mobil tidak berhenti dan terus melaju. Tidak apa sih sebenernya, karena yang terpenting adalah kami selamat dan tidak luka berat. Maka semenjak itu juga kami jadi makin dan lebih berhati-hati dalam berkendara. Karena sebenarnya maut itu sangat dekat dengan kita.
wuih....menegangkan
BalasHapus